$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Taktik Jokowi Akhiri Polemik Novel Cs sampai Tak Berkutik

GELORABANGSA - Novel Baswedan dan kawan-kawannya seperti yang kita tahu hampir setiap hari mewarnai berita media. Dan nampaknya kini sudah ...



GELORABANGSA - Novel Baswedan dan kawan-kawannya seperti yang kita tahu hampir setiap hari mewarnai berita media. Dan nampaknya kini sudah mulai ada jalan terang soal tuntutan mereka. Tapi dengan catatan jika mereka mau menerima pinangan, jika tidak maka kisah mereka bisa panjang. Hilang atau masuk jebakan yang mematikan. Tertutup sudah rasa sabar.

Selama ini narasi yang coba dibangun di luaran sana Novel Cs adalah orang-orang yang sengaja disingkirkan. Karena mereka konon adalah sekelompok penyidik atau pegawai yang berintegritas. Sehingga disingkirkan dengan cara Test Wawasan Kebangsaan (TWK).

Namanya juga narasi, ya sah-sah saja tinggal kekuatan narasinya itu memberikan dampak kepada masyarakat secara luas atau tidak? Sesuai dengan fakta atau tidak? Apa benar mereka sengaja disingkirkan? Yakin mereka itu berintegritas? Mengapa hanya narasi itu yang selalu ditonjolkan, seolah-olah mereka digambarkan orang-orang yang terdzalimi oleh sebuah kekuatan?

Atau jangan-jangan apa yang mereka gambarkan sebetulnya adalah kebalikannya? Ya, seperti hukum cermin. KPK sejak semula tentu sudah berhitung dengan cermat atas apa yang akan terjadi dikemudian hari ketika mereka tak lolos test kebangsaan. Apalagi di dalamnya ada sosok Novel Baswedan. Seorang penyidik yang kontroversi dan brandingnya cukup sukses di dalam KPK. Ketika orang sebut KPK maka dalam otaknya ada Novel. Begitu sebaliknya ketika orang sebut nama Novel maka nama KPK yang dominan dan tentu saja kondisi ini membahayakan keberlangsungan lembaga itu sendiri.

Kalau soal mahasiswa yang kepincut dengan narasi "mereka" itu hal yang lumrah, karena pada dasarnya anak-anak mahasiswa itu memiliki dasar idealis sebagai pemberontak sesuai dengan jiwanya yang masih muda. Dengan kata lain mereka hanya butuh pengakuan.

Dengan kalimat provokatif misal, "KPK dilemahkan oleh kekuatan oligarki" itu saja sudah membuat mahasiswa produksi sekarang sudah mendidih darahnya dan tak butuh pikir panjang untuk berteriak lantang mari berjuang. Terlebih ada penunjang dalam menggelar aksi. Itu membuat mereka kian bersemangat dan berharap kisah mereka bakal melegenda di kampus-kampusnya sepulang dari aksi.

Harus berani akui idealisnya anak-anak mahasiswa jaman sekarang dengan era kakaknya sebelum tahun 90-an seperti langit dan bumi. Jika dulu saat alam demokrasi belum seperti sekarang, perjuangan mahasiswa dulu benar-benar untuk rakyat dan 'nyawa' taruhannya. Jika sekarang nampaknya kekuatan mahasiswa bisa digunakan sebagai bahan dagangan kepentingan. Ya, hal itu bisa dapat kita pahami dikarenakan perubahan jaman.

Saya melihat sejak Novel Cs dinyatakan tak lolos test kebangsaan dan melakukan perlawanan dengan berbagai cara dilakukan. Sampai tantrumnya Novel Cs di respon presiden.

Presiden Jokowi kemudian membuat pernyataan khusus, saran presiden untuk lakukan pembinaan, setelahnya presiden Jokowi melempar bola panas kembali ke KPK. Sampai akhirnya tersisa 56 pegawai KPK yang dinyatakan "rapor merah" termasuk di dalamnya Novel Baswedan dan diberhentkan secara terhormat.

Mulailah kembali mereka ini teriak-teriak lagi, seolah-olah mereka itu sangat spesial. Tak seharusnya diperlakukan sebegitu rendahnya. Sampai-sampai mereka membuat KPK tandingan pula. Ini jelas sebuah tontonan yang membuat kita semua yang waras tertawa. Sebuah tanda jika harga diri mereka sudah begitu tercabik-cabik. Nalar dan logika mereka sudah tak jalan. Sampai membuat KPK tandingan segala.

Akhirnya desakan kepada presiden Jokowi datang dari segala arah termasuk adik-adik mahasiswa melalui BEM SI. Lagi dan lagi harus seorang Jokowi mereka akhinya menggantungkan diri. Padahal dalam sebuah kesempatan presiden mengatakan sedang menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan berpesan jangan apa-apa ke presiden.

Dan seperti yang bisa kita lihat selama ini, dalam beberapa bulan presiden seolah seperti memberikan kepada Novel Cs ruang untuk salto dan kayang terlebih dahulu. Merengek-rengek seperti anak kecil yang meminta mainan ortunya. Dan rengekannya dibantu melalu jaringan Novel Cs, baik itu yang datang dari pengamat, tokoh publik, mahasiswa, ormas atau lembaga.

Saat Novel Cs salto kayang tak karuan itu, presiden tetap melakukan aktifitas seperti biasa bahkan kunjungan kerja ke berbagai daerah dijalaninya. Mengecek ke lapangan, meresmikan sejumlah proyek, memantau langsung kegiatan vaksin dan berdialog dengan rakyatnya. Itulah cara presiden Jokowi menghibur diri. Cukup berinteraksi dan melihat rakyatnya dari dekat.

Dan setelah dirasa cukup, bola panas yang selama ini seolah dalam genggamannya dan tujuan mereka terbaca secara jelas, maka skenarionya Kapolri Sigit mensurati presiden Jokowi yang intinya menyatakan Polri siap menampung ke 56 pegawai KPK yang tak lolos TWK. Dan tentu saja presiden Jokowi menjawab surat Kapolri tersebut dan menyetujuinya. Sesederhana itu.

Dan saat ini bola panas dikembalikan ke Novel Cs. Seperti yang sudah saya singgung di paragraf awal, sekarang tinggal Novel CS menerima atau tidak pinangan dari Kapolri tersebut?

Sampai di sini Novel Cs mulai masuk, mereka seperti dalam sebuah jalan persimpangan. Untuk kembali bercokol di KPK dan duduk di singgasananya bak penguasa seperti dulu rasanya sudah tak mungkin. Sementara jika ia masuk menjadi pegawai di bawah naungan Polri maka sudah dipastikan kewenangannya tak seperti dulu lagi. Ya, pada akhirnya hanya menjadi ASN pada umumnya. Berangkat pagi pulang petang. Itu pun label ASN "buangan" akan melekat seumur hidupnya.

Nah, yang menarik Novel Cs beserta lingkarannya itu harus gigit jari, mereka tidak berhasil menjebak presiden Jokowi dengan permainannya. Justru yang terjadi sebaliknya. Dengan skenario usulan dari Kapolri maka suka atau tidak Novel Cs dipaksa berhubungan dengan Polri bukan presiden, Dan kita yakin stok opsi yang ada di benak presiden masih ada sampai pada suatu titik kesabaran presiden sudah cukup.

Seperti yang sudah kita ketahui Kapolri siap menampung para pegawai yang tak lolos test kebangsaan (TWK) untuk menjadi pegawainya di kepolisian

Sementara itu KPK nampak tetap bekerja seperti biasa melakukan OTT dan menetapkan tersangka korupsi, tak terpengaruh atas kisruh yang dilakukan oleh Novel dan kawan-kawannya tersebut.

KIta pasti ingat yang terbaru dan cukup sita perhatian publik dtetapkannya tersangka Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin politisi Golkar. Azis Syamsuddin adalah salah satu anggota dewan di Senayan yang kala itu menyetujui Firli menjadi Ketua KPK. Tapi Firli pula yang menyatakan Azis Syamsuddin sebagai tersangka dan menjeblokan ke dalam penjara.

Peristiwa di atas setidaknya seperti memberikan sebuah fakta KPK masih dapat diandalkan sebagai lembaga yang tak dapat diintervensi oleh pihal-pihak yang berkepentingan. KPK seolah telah memberikan pesan kuat atas tuduhan-tuduhan yang selama ini dialamatkan kepada mereka. Terutama narasi atas tidak lolosnya Novel Cs yang kerap dikaitkan dengan ketakutan pihak tertentu atas keberadaan "mereka" di KPK.

Sejak semula justru publik sebagian berpikir sebaliknya, keberadaan Novel Cs selama ini di KPK memiliki agenda yang melindungi pihak-pihak tertentu. Dua kekuatan ini saling tarik-menarik begitu kuat dan menimbulkan tanda tanya besar ke masyarakat selama ini.

Well, pada akhirnya apakah Novel Cs akan menerima pinangan dari Kapolri? Atau masih bermanuver kembali.

Dan tentu kita tahu, Kapolri Sigit ini ketika menjadi Kapolresta Surakarta adalah teman ngopi dan diskusi presiden Jokowi yang kala itu masih menjadi Wali Kota Surakarta. Jadi bisa dikatakan Kapolri Sigit secara pribadi adalah seorang sahabat.

Menarik bukan? Sampai di sini kita diberi sebuah perang strategi yang cukup cantik atas taktik, Novel Cs dibuat terjebak tak berkutik. Sudah diberikan kesempatan, mau ambil tenggelam dalam damai apa memilih perang.

Bagaimana menurut kalian?

Demikian, salam


S:Anto cahya


Name

Berita,6627,Internasional,310,Nasional,6158,Opini,253,
ltr
item
GELORABANGSA.COM: Taktik Jokowi Akhiri Polemik Novel Cs sampai Tak Berkutik
Taktik Jokowi Akhiri Polemik Novel Cs sampai Tak Berkutik
https://1.bp.blogspot.com/-z8dMUxEsNVk/YVg4nv6kqtI/AAAAAAAAQoc/i26LjfPgLAk19p8NY9fP8LOf9Ri3zazqQCLcBGAsYHQ/w640-h380/IMG_20211002_174603.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-z8dMUxEsNVk/YVg4nv6kqtI/AAAAAAAAQoc/i26LjfPgLAk19p8NY9fP8LOf9Ri3zazqQCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h380/IMG_20211002_174603.jpg
GELORABANGSA.COM
https://www.gelorabangsa.com/2021/10/taktik-jokowi-akhiri-polemik-novel-cs.html
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/2021/10/taktik-jokowi-akhiri-polemik-novel-cs.html
true
8720628738510203021
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy