$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Pesta Pora Dana Kovid, Satu Persatu Terbongkar

GELORABANGSA - Beberapa bulan lalu, cerita orang-orang dikovidkan masih dianggap tidak jelas sumbernya. Beberapa orang percaya diri mengata...



GELORABANGSA - Beberapa bulan lalu, cerita orang-orang dikovidkan masih dianggap tidak jelas sumbernya. Beberapa orang percaya diri mengatakan jangan menyebar hoax, dan sebagainya.

Tapi kemudian Moeldoko juga buka suara. Bupati Banjarnegara lebih jelas lagi, mengatakan ada praktek negosiasi pasien agar mau dikovidkan.

Namun cerita ini masih cukup abu-abu. Dan dianggap tidak masalah dikovidkan karena untuk antisipasi. Lebih baik hati-hati daripada beresiko.


 
Sehingga penguburan mayat ataupun penanganan pasien yang dikit-dikit kovid itupun mendapat pembenaran. Gapapa, demi kebaikan bersama. Itu pesannya.

Kalau ada orang bicara soal insentif nakes yang tinggi, atau dana pemakaman yang cukup cair, sontak akan dinilai hoax atau tidak ada buktinya. Karena nakes sudah berjuang. Penggali kubur itu kelelahan. Jadi tidak boleh kita bahas atau pertanyakan dengan dana yang mereka dapatkan.

Lalu bisa ditebak ujungnya, banyak komentar akan meminta kita diam. Daripada bicara hal yang ga jelas, lebih baik ikut bantu pemakaman dan relawan di rumah sakit, katanya.

Tapi sekarang akhirnya terbongkar juga. Di Jember, Bupati dan jajarannya mendapatkan dana pemakaman dari setiap mayat yang dikuburkan. Padahal para bupati dan jajarannya itu tidak ikut campur atau membantu pemakaman.

Dari cerita ini satu aib terkonfirmasi. Bahwa benar ada biaya pemakaman dan banyak orang senang mengkovidkan agar ada dana yang mereka dapatkan. Karena kalau meninggal biasa, ga ada dananya.

Maka wajar kalau setiap kepala daerah berlomba-lomba memperbanyak jumlah orang meninggal karena kopid. Karena semakin banyak data yang didapat, itu berarti semakin besar lah jumlah uang yang bisa dicarikan.

Semua dapat. Ga cuma Bupatinya.

Dari sini kita juga jadi paham kenapa pemakaman kovid itu harus terpusat. Ternyata mempermudah penghitungan. Tak heran juga bila Anies Baswedan suka sekali menghitung jumlah kuburan kovid. Karena setiap kuburan ada harganya.


 
Tak heran juga kalau banyak pasien yang meninggal dikovidkan sebelum hasil tes keluar. Alasannya karena secara medis sudah menunjukkan gejala.

Bahwa nantinya hasil tes PCR dinyatakan negatif, tapi tetap saja proses penguburan sudah dilakukan sesuai protokol kovid. Sudah terlanjur pakai APD, sudah terlanjur diberi peti, sudah terlanjur dimakamkan sesuai protokol. Jelas ada biaya peti, APD, ambulan dan sebagainya.

Pesta pora para pejabat yang hanya memikirkan uang atau anggaran, pada akhirnya menunjukkan betapa mereka adalah manusia yang tidak peduli dengan nasib orang lain.

Mereka tutup mata dengan PPKM yang membuat banyak orang kehilangan pekerjaan, stress karena harus di rumah dan sebagainya.

Tidak peduli PPKM dilanjutkan terus menerus, karena mereka merasa nyaman dengan aneka subsidi dan anggaran yang bisa dimainkan.

Saya pribadi, setelah hampir dua tahun melihat sikap para politisi dan pejabat kita, pada akhirnya hanya bisa berserah dan ikhlas.

Saya sudah menunjukkan upaya atau usaha sesuai dengan kemampuan. Bahwa kemudian saya pernah salah langkah, pernah berpikir bisa berkontribusi secara nasional tapi malah hanya membantu ambisi seseorang dalam mendapat cuan dan jabatan, pada prinsipnya niat saya benar.

Semua yang kita lakukan akan menuai karma. Kita mungkin bisa menipu atau berpura-pura di hadapan sesama manusia, pura pura peduli dan berkali-kali bilang tidak butuh uang, tapi Tuhan maha tahu.

Jadi kepada para pejabat yang masih kerap memanfaatkan dan memanipulasi data demi anggaran, tak memikirkan dampak sosial dan ekonominya, saya harap sudahilah.

Setahun lebih anggaran mengalir begitu deras. Apa masih kurang?

Bukankah sudah banyak yang kalian dapatkan. Dan sudah terlalu lama masyarakat menjadi korban.

Berhentilah bermain anggaran dan data kovid. Kalaupun mau korupsi dan main anggaran, silahkan main di tempat lain. Karena kalau kalian bermain di wilayah kovid, itu dampaknya adalah PPKM yang akan terus diperpanjang entah sampai kapan.

Kalian sih enak, bisa makan dan tidur nyenyak tanpa khawatir tagihan tak terbayar. Malah pundi pundi semakin tinggi karena pandemi. Tapi kasihanilah rakyat jelata yang sekarang benar-benar sedang kesusahan.

Tapi bagaimanapun ini hanyalah nasehat gratis untuk semua pejabat dan politisi yang punya kuasa dalam menentukan kebijakan. Selebihnya, terserah kalian. Begitulah kura-kura



S:Allifurahman


Name

Berita,6588,Internasional,310,Nasional,6119,Opini,247,
ltr
item
GELORABANGSA.COM: Pesta Pora Dana Kovid, Satu Persatu Terbongkar
Pesta Pora Dana Kovid, Satu Persatu Terbongkar
https://1.bp.blogspot.com/-hymqm_UM3pI/YSxW5Cf-04I/AAAAAAAAQX8/6Q0PFDFKUCUxhzOOdlaeRzHhyXl0I-reQCLcBGAsYHQ/w640-h330/Screenshot_2021-08-30-10-55-18-73.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-hymqm_UM3pI/YSxW5Cf-04I/AAAAAAAAQX8/6Q0PFDFKUCUxhzOOdlaeRzHhyXl0I-reQCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h330/Screenshot_2021-08-30-10-55-18-73.jpg
GELORABANGSA.COM
https://www.gelorabangsa.com/2021/08/pesta-pora-dana-kovid-satu-persatu.html
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/2021/08/pesta-pora-dana-kovid-satu-persatu.html
true
8720628738510203021
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy