$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Ironi! Nasib di Ujung Tanduk, Partai Demokrat Gunakan Covid untuk Naikkan Elektabilitas

GELORABANGSA - Memang betul pepatah mengatakan "mempertahankan itu lebih berat daripada merebut". Hal ini bisa dilihat dari parta...



GELORABANGSA - Memang betul pepatah mengatakan "mempertahankan itu lebih berat daripada merebut".

Hal ini bisa dilihat dari partai besutan Esbeye, Partai Demokrat.

Betapa mudah partai ini merebut suara terbanyak di Pemilu, namun lebih mudah lagi melepaskannya.
 
Partai berlambang bintang Mercy tersebut memang berdirinya pada 2001. Namun baru disahkan pada 2003.

Artinya, sejak 2003 itulah medan tarung Partai Demokrat sebenarnya.

Nah, setahun kemudian atau pada Pemilu 2004, hebatnya partai ini sudah bisa mengusung kadernya SBY sebagai Capres.

Dan hebatnya lagi yang jadi wakilnya adalah JK. Kader partai yang berdiri pada 1964, yang sangat berkuasa di era Orba dulu, Golkar.

Bayangkan partai baru seumur jagung langsung bisa mengusung Capres sendiri dengan partai senior sebagai pelengkapnya.

Apa lagi itu namanya kalau bukan suatu keajaiban?

Bandingkan dengan PKS yang berkali-kali mau mengusung kadernya sendiri sebagai Capres tapi gak jadi-jadi.

Bahkan, di Pemilu 2019 lalu partai dakwah itu sudah menyiapkan 10 kader terbaik1 untuk diusung sebagai calon RI-1. Namun tidak ada satupun partai yang tertarik untuk meminang salah satu dari 10 nama itu.

Entah kenapa.

Apakah karena kurang kurang modal, kurang elektabilitas ataukah justru kurang kedua-duanya?

Nah, di Pemilu 2004 itu Partai Demokrat langsung meraih peringkat ke-5 suara terbanyak. Atau tepatnya di atas PKS dan PAN.

Pada Pemilu 2009 merupakan puncaknya kejayaan partai ini. Atau kalau ibarat kerajaan Majapahit, pada 2009 itu merupakan masa pemerintahan Hayam Wuruk yang begitu sukses dengan Gajah Mada sebagai patihnya.

-o0o-

Yang namanya mencapai puncak tentu tidak ada pilihan lain selain dari mempertahankan, turun atau mundur.

Ternyata Partai Demokrat memilih untuk turun.

Pada Pemilu 2014 perolehan suara partai ini merosot drastis. Dari posisi pertama menjadi posisi ke-4.

Dan titik nadirnya pada Pemilu 2019. Partai Demokrat hanya mampu menduduki posisi ke-7 dari 9 Parpol yang lolos ke senayan.

Artinya apa?

Melihat perolehan suara yang terus menurun ini, jika tidak ada perubahan maka pada Pemilu 2024 mendatang, Partai Demokrat hanya akan tinggal sejarah di parlemen.

Apalagi sekarang ketuanya bukan lagi SBY, tapi AHY yang jelas minim pengalaman di dunia politik. Serta pernah gagal jadi Cagub DKI.

Untuk itu, bisa dibilang 2021 hingga 2024 ini merupakan tahun penentuan bagi Partai Demokrat.

Apakah akan bertarung habis-habisan atau dalam tanda petik menghalalkan segala cara atau justru hanya mengikuti arus. Lolos ke senayan bersyukur gak lolos juga gak apa-apa.

Dan ternyata, yang dipilih oleh partai ini strategi yang pertama, yakni halal haram hantam yang penting tujuan tercapai.

Segala daya dan upaya dilakukan supaya tetap ada perwakilan di DPR-RI, meskipun itu terkadang tidak etis.

Lantas, apa saja kelakuan kurang berakhlak yang dilakukan oleh kader partai yang pernah dipimpin oleh Anas Urbaningrum itu?

Salah satunya yang paling kentara adalah memanfaatkan pandemi Covid-19 untuk meningkatkan elektabilitas serta merusak citra pemerintah.


 
Tentu masih segar diingatan kita kala itu anak AHY, Almira menulis pidato yang isinya minta lockdown.

Pertanyaannya, apa hubungan antara anak AHY dengan langkah politik Partai Demokrat tersebut?

Almira kala itu masih berusia 11 tahun ferguso. Tentu yang ada di pikirannya gak akan mungkin ada istilah lockdown. Artinya di pidato yang ditulisnya itu sudah pasti ada pembisik.

Kalau pidato murni buatan anak SD mah palingan soal bagaimana caranya berbakti kepada kedua orangtua, soal pentingnya menjaga kebersihan, soal pentingnya belajar supaya pintar, dll.

Intinya yang sederhana-sederhana, serta langsung menyentuh kehidupan mereka.

Lantas, kalau pidato lockdown itu bisikan dari orang lain, siapa yang membisikkan?

Siapa lagi kalau bukan bapaknya atau emaknya.

Karena gak akan mungkin-lah Ferdinand Hutahean. Secara dia kan sudah bukan lagi kader Partai Demokrat.

Jadi, pada intinya yang minta lockdown itu adalah AHY sebagai Ketua umum Partai Demokrat.

Lantas, apa tujuan Partai Demokrat ngotot minta lockdown?

Karena melihat kondisi Indonesia saat ini, lockdown itu sangat tidak mungkin untuk dilakukan.

Pertama, anggaran negara kita terbatas. Sedangkan untuk lockdown tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Minimal negara harus menghidupi mereka yang terdampak.

Kedua, karakter masyarakat kita yang cenderung suka ngeyel alias suka melakukan sesuatu yang dilarang.

Disuruh pakai masker katanya gak nyaman.

Dan disuruh di rumah saja, katanya Covid itu sudah gak ada.

Dengan kondisi seperti ini, kalau disuruh diam di rumah berhari-hari, siap-siap saja lockdownya gatot alias gagal total.

Ujung-ujungnya citra pemerintah yang jadi buruk. Gagal bikin kebijakan.

Dan kelompok sebelah punya gorengan baru untuk menyerang presiden.

-o0o-

Tidak hanya itu, bintang iklan bilik disinfektan Ibas juga menyerang Jokowi dengan narasi pemerintah tidak berdaya menghadapi pandemi Covid-19.

Begitupun dengan Benny K Harman juga menyampaikan hal yang sama.

Intinya yang disampaikan oleh kader Partai Demokrat itu, tidak ada satupun yang baik yang dilakukan oleh pemerintah terkait penanganan Covid-19. Yang muaranya adalah pada Pemilu 2024 mendatang jangan lagi pilih Parpol pengusung Jokowi beserta koalisinya karena terbukti gagal. Pilihlah Partai Demokrat saja yang terbukti peduli terhadap masyarakat yang terdampak korona.

Lantas, apakah strategi memanfaatkan pandemi Covid-19 ini akan berhasil menaikkan citra Partai Demokrat?

Eits, tungguh dulu.

Kita lihat dulu data dan fakta yang ada.

Berdasarkan hasil survei terbaru, Capres potensial yang selalu bersaing di posisi teratas adalah Ganjar, Prabowo, Anies dan Ridwan Kamil.

Artinya tidak ada nama AHY di sana.

Kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi juga masih tinggi kok.

Berdasarkan hasil survei SMRC yang dirilis pada 13 Juni lalu, tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah mencapai 75,6 persen (sangat puas dan cukup puas).

Jadi mau bagaimanapun juga Partai Demokrat menyerang presiden, kalau masyarakat puas terhadap kinerjanya, tetap saja yang lebih dipercaya Jokowi dibandingkan Benny K Harman.

Kura-kura begitu.




S: Ninanoor


Name

Berita,6536,Internasional,283,Nasional,6068,Opini,213,
ltr
item
GELORABANGSA.COM: Ironi! Nasib di Ujung Tanduk, Partai Demokrat Gunakan Covid untuk Naikkan Elektabilitas
Ironi! Nasib di Ujung Tanduk, Partai Demokrat Gunakan Covid untuk Naikkan Elektabilitas
https://1.bp.blogspot.com/-umavKMtbu7s/YOaNf6OVwVI/AAAAAAAAPjE/qlbwdeow12gdzWGb0qnS1rhmX_qdSuldQCLcBGAsYHQ/w640-h414/Screenshot_2021-07-08-12-29-01-42.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-umavKMtbu7s/YOaNf6OVwVI/AAAAAAAAPjE/qlbwdeow12gdzWGb0qnS1rhmX_qdSuldQCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h414/Screenshot_2021-07-08-12-29-01-42.jpg
GELORABANGSA.COM
https://www.gelorabangsa.com/2021/07/ironi-nasib-di-ujung-tanduk-partai.html
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/2021/07/ironi-nasib-di-ujung-tanduk-partai.html
true
8720628738510203021
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy