$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Ganjar dan Kita Harus Belajar Melihat ‘Karma’ Demokrat, PKS, HTI Hingga Amien Rais

GELORABANGSA -  Pemimpin yang baik, akan mengahasilkan pemimpin baru yang lebih baik. Kaderisasi, adalah tugas para pemimpin-pemimpin organ...



GELORABANGSA -  Pemimpin yang baik, akan mengahasilkan pemimpin baru yang lebih baik. Kaderisasi, adalah tugas para pemimpin-pemimpin organisasi, apapun organisasinya.Organisasi usaha hingga politik. Tanpa kaderisasi yang baik, sebuah organisasi tidak akan bertahan di era ini. Kepemimpinan partai bergaya dinasti di negara demokrasi tidak akan pernah menghasilkan kader-kader mempuni yang bisa disebar untuk berbakti kepada negeri.

Partai politik adalah instrument demokrasi di negeri ini. Negeri yang sudah disepakati menganut demokrasi Pancasila. Kalau gak mau partai politik ada, maka pilihannya adalah khilafah. Oleh sebab itu, jika ada orang yang ngaku Nasionalis, tetapi menginginkan parpol bubar, itu otaknya kurang dimaksimalkan.

Sebelum menuliskan lebih jauh, saya tegaskan bahwa saya tidak pernah tercatat dalam buku anggota PDI P. Jadi tidak ada alasan untuk memuji PDI P berlebihan dan menyerang partai lain dengan berlebihan. Saya hanya ingin berkontribusi bagi demokrasi negeri ini. Dengan harapan, kualitasnya semakin baik. Jika kualitasnya semakin baik, maka kader-kader dan pemimpin negeri ini pun akan semakin baik.


 
Saya berkeyakinan, originalitas sebuah fakta adalah hal yang paling penting dalam kehidupan ini. Pribahasa “sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga” sudah cukup untuk menjelaskan. Menjelaskan bahwa hal baik tidak akan bisa ditutupi, begitu juga dengan hal buruk. Hal yang berguna dalam kehidupan ini, akan terlihat dengan eksistensinya yang besar. Keyakinan saya terhadap karma adalah sebuah keyakinan hukum alam sebab dan akibat. Sebab berguna maka tetap eksis, sebab buruk maka ia akan ditinggalkan.

Sistem demokrasi eksis di berbagai negara karena dianggap relevan ketimbang sistem pemerintah dinasti hingga khilafah. Relevan dalam kemajuan zaman dan memiliki potensi mampu memberi keadilan hukum positif bagi seluruh manusia tanpa pandang bulu. Selain itu juga memiliki potensi mengumpulkan hal terbaik dari segala lini kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Begitu juga dengan sebuah kelompok atau komunitas. Originalitas terkait baik buruknya begitu penting. ISIS awalnya cukup banyak dukungan. Bahkan WNI banyak yang ingin hidup dibawah naungan ISIS. Akhirnya, mereka pulang kembali dan menyesal, karena hidup di bawah ISIS tidak seperti surga yang mereka bayangkan.

Di Mesir. Ikhwanul Muslimin yang sempat besar akhirnya digulingkan, dan bahkan dilarang. HTI pun banyak dilarang di berbagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Padahal sempat menjadi organisasi yang besar, termasuk di Indonesia. Jangan lupa, PKI pun tumbang. Terkait pro dan kontra terhadap tumbangnya PKI, namun saya meyakini hal tersebut adalah seleksi alam. Sama seperti Soeharto yang akhirnya tumbang meskipun di buku sejarah sekolah ditulis sebagai bapak pembangunan dan pujian. Namun originalitas dan hukum alam sebab akibatlah yang menang.

Kita kembali kepada masa ini. Masa refomarsi. Mempelajari rekam jejak untuk dipelajari kembali agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama. Minimal bisa digunakan sebagai permenungan kita.

Pertama marilah kita pelajari tokoh-tokohnya. Gusdur pernah mengatakan bahwa Amien Rais akan menjadi gelandangan politik. Dan kini sepertinya itu terjadi. Gusdur ketika itu sudah menilai originalitas Amien Rais. Orang yang pernah dianggap sebagai bapak reformasi namun seiring dengan waktu label bapak reformasi hilang dengan tindak tanduknya dalam politik. Atau lihatlah Gusdur, meskipun ia dilengserkan, tetap saja namanya harum hingga detik ini. Sama seperti Soekarno yang juga dilengserkan.

Lalu kita lihat Demokrat. Partai tersebut cukup besar ketika itu. Namun, kaderisasi tak ada. Tak terlihat tokoh mencolok dihadirkan dalam tubuh Demokrat. Bahkan, AHY pun dibetot dari TNI untuk maju pilkada Jakarta. Ini sungguh mencerminkan auto pilot dalam Demokrat, serta minimnya kaderisasi partai untuk negeri.


 
Jangan lupa melihat PKS. Kaderisasinya cukup hebat sehinga punya potensi untuk meraih 3 besar. Namun originalitas hasil kaderisasinya kembali tak bisa dibohongi. Jangankan menggapai 3 besar, untuk mempertahankan suara dalam posisi pun begitu sulit. Padahal, militansi kader yang siap mati tidak bisa dipungkiri, mungkin visi misi dan tujuannya yang perlu direvisi.

Marilah kita lihat Megawati. Tragedi kuda tuli di masa orde baru mengasah perjuangannya demi demokrasi. Dari awal reformasi, PDI P besutannya cukup kuat bertahan. Kader-kader dihadirkan untuk negeri. Meskipun Mega dicaci dalam medsos, tetap saja eksistensi PDI P membuktikan orginalitasnya.

Kalau seperti SBY, Mega bisa saja mengatur strategi meredam eksistensi kader lain demi sang buah hati. Namun itu tidak dilakukan. Puan menjadi anggota DPR pun karena mendapat suara dari rakyat. Bahkan perolehan suara Puan tertinggi di tingkat nasional. Menjadi wajar, kalau Puan boleh menjadi ketua DPR karena selain PDI P menjadi partai pemenang pemilu, Puan pun mendapat suara tertinggi dari yang lainnya, bahkan selisihnya hampir setengah dari urutan ke dua yang juga didapat oleh kader PDI P, Cornelis.

Sebagai ketua umum, Megawati bisa memaksakan kehendak. Tapi itu tidak dilakukan sehingga muncullah Jokowi, Ganjar hingga Risma. Mungkin kita pun ingat Ridwan Kamil yang tidak jadi diusung PDI P karena tidak mau sekolah kader terlebih dahulu. Pilkada lalu, PDI P memutuskan untuk mengusung orang yang memang kader PDI P. Ini adalah langkah yang begitu sempurna. Tidak melulu memikirkan kemenangan, tetapi kebergunaan.

Langkah PDI P adalah upaya untuk membentuk originalitas partai. Karena itu adalah kunci sebuah organisasi. Menciptakan kader yang sesuai marwah, visi dan misi partai. Tanpa itu, partai tidak akan bertahan jika hanya mengandalkan sosok yang ada di partai tersebut. Contohnya Gerindra yang mengandalkan sosok Prabowo. Suatu saat, partai tersebut bisa menjadi partai gurem kalau tidak berbenah.

Prediksi penutup

Originalitas adalah kunci sebuah eksistensi. Hukum alam punya caranya sendiri untuk melakukan seleksi. Begitu pula dalam politik. Sudah banyak contoh yang bisa kita pelajari. Yang masih hangat tentu saja pilkada Jakarta dan pilpres 2019.

Anies pun kini terlihat originalitasnya. Janji rumah tapak DP 0 persen bagi rakyat miskin, janji tidak menggusur hingga menolak pulau reklamasi yang dianggap ngibul adalah bukti originalitas diri Anies. Soal nasib politik, saya yakin Anies akan disingkirkan oleh hukum alam kalau tidak mau berubah.

Lihatlah pilpres. Sehebat apapun Prabowo dikemas oleh orang-orang melalui isu agama, tetap saja originalitas Jokowi mengalahkannya.

Ganjar dan RK, meskipun rajin bersolek di media sosial, originalitas pun akan kembali menentukan. Jika ia tidak bekerja dengan serius sehingga orang bingung menyebutkan prestasinya, maka apa yang bisa diharapkan untuk mengubah negara untuk menjadi lebih baik? Ingatlah selalu originalitas. Setebal apapun makeup yang digunakan tetap akan luntur. Sehebat apapun bangkai ditutupi, akan tercium. Sedalam apapun emas bersembunyi, tetap akan dicari dan digali.

Bukan hanya Ganjar, kita semua harus belajar berguna agar tetap eksis dalam kehidupan. Berguna bagi keluarga, tetangga, hingga negara, karena hukum alam yang berpatokan dengan sebab akibat menuntut originalitas. Bukan KW atau pencitraan yang tidak orisinil. Jadi terkait ribut-ribut soal ganjar yang digoreng oleh PKS dan sejenisnya, kita tidak perlu terlalu terbawa, sebab Megawati sudah ditempa dalam membuat kebijakan seperti mengusung Jokowi di Solo, Jakarta hingga Pilpres. Udah ah, itu aja… Cak Anton




S:Cak anton


Name

Berita,6412,Internasional,283,Nasional,5944,Opini,208,
ltr
item
GELORABANGSA.COM: Ganjar dan Kita Harus Belajar Melihat ‘Karma’ Demokrat, PKS, HTI Hingga Amien Rais
Ganjar dan Kita Harus Belajar Melihat ‘Karma’ Demokrat, PKS, HTI Hingga Amien Rais
https://1.bp.blogspot.com/-rXiR5vZ2oGU/YK-xhHueQlI/AAAAAAAAOH0/fRjiUvOPY4ooM6zRxWDp-8edz487ve0hQCLcBGAsYHQ/w640-h0/zy1DQwmdLV-feature.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-rXiR5vZ2oGU/YK-xhHueQlI/AAAAAAAAOH0/fRjiUvOPY4ooM6zRxWDp-8edz487ve0hQCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h0/zy1DQwmdLV-feature.jpeg
GELORABANGSA.COM
https://www.gelorabangsa.com/2021/05/ganjar-dan-kita-harus-belajar-melihat.html
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/2021/05/ganjar-dan-kita-harus-belajar-melihat.html
true
8720628738510203021
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy