$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Memprihatinkan! Pasca AHY Gagal Playing Victim, Kader Demokrat Ramai-ramai Pindah Partai

GELORABANGSA - Konon katanya, Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, "Barang siapa yang harinya lebih baik daripada hari kemarin maka d...



GELORABANGSA - Konon katanya, Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, "Barang siapa yang harinya lebih baik daripada hari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. 

Barang siapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Dan barang siapa yang harinya sekarang lebih buruk daripada hari kemarin maka dia celaka".

Artinya, kita memang dituntut untuk selalu berbuat lebih baik lagi dari hari ke hari kalau mau beruntung.

Kalau tidak, ya antara dua pilihan. Kalau gak merugi, celaka. Itu saja.

Lantas, bagaimana dengan Partai Demokrat?

Apakah semenjak kehadirannya hingga kini semakin membaik? Atau justru sebaliknya?

Ternyata eh ternyata, pembaca Seword bisa lihat sendiri bagaimana kondisi partai itu kini?

Memprihatinkan.

Pertama, kita bisa lihat bagaimana perolehan suaranya dari Pemilu ke Pemilu.

Karena salah satu indikator kesuksesaan suatu partai itu adalah seberapa banyak suara yang berhasil diperoleh.

Di Pemilu 2009 merupakan masa kejayaan partai ini.

Partai Demokat kala itu berhasil menjadi partai pemenang dengan meraih suara sebanyak 20,4 persen. Dan menguasai seperempat lebih (26,4 persen) kursi di DPR.

Di Pemilu 2014, partai berlambang bintang Mercy itu mulai bisa disebut celaka. Karena perolehan suaranya lebih buruk dari Pemilu sebelumnya, yakni hanya mampu mendapatkan 10,19 persen suara saja.

Artinya, nyaris setengah suara partai itu hilang atau pindah haluan entah ke mana.

Di Pemilu 2019 yang lebih para lagi. Partai ini hanya memperoleh suara 7,77 persen. Berada di posisi ke 7 dari 9 Parpol yang lolos ke senayan.

Artinya, sudah di ujung tanduk.

Kalau berdasarkan kutipan di atas, ini namanya celaka kuadrat. Mendapatkan nilai lebih buruk dua kali berturut-turut.

Seharusnya, hasil Pemilu 2014 bisa dijadikan bahan evaluasi oleh Partai Demokrat, kenapa perolehan suara bisa menurun.

Eh malah blunder. Melakukan hal-hal yang merugikan partai. Seperti yang dilakukan oleh Andi Arief, mengatakan Prabowo jenderal kardus. Yang dibalas oleh Arief Poyuono, SBY jenderal baper.

Kemudian, kesalahan lain Partai Demokrat adalah tidak tegas dalam memberikan dukungan kepada Prabowo.

Akhirnya, pendukung Prabowo pun jadi bingung. Partai ini serius gak sih memenangkan Capres yang saya dukung? Begitu kura-kura yang ada di benak mereka.

Sehingga, mereka pun pindah ke lain hati dengan memilih Partai yang benar-benar terlihat ingin memenangkan Prabowo. Contohnya PKS dan Gerindra.

Lantas, apa lagi penyebab perolehan suara Partai Demokrat yang lebih buruk dari hari kemarin itu?

Tentu ada banyak.

Di antaranya yang paling kentara adalah slogan katakan tidak pada (hal) korupsi itu.
 
Banyak kader Partai Demokrat yang bisa dibilang tidak konsisten antara antara perkataan dan perbuatannya.

Tentu kita masih ingat bagaimana iklan partai itu yang menyuarakan perlawanan terhadap korupsi kala itu.

Hingga kata-kata dalam iklan tersebut, "katakan tidak pada korupsi" begitu familiar di masyarakat.

Tidak lama berselang, beberapa bintang iklan itu malah ditangkap KPK karena korupsi gede-gedean. Seperti Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng dan Angelina Sondakh.

Sampai-sampai peneliti CSIS, J Kristiadi menyarankan, sebaiknya Partai Demokrat mengganti slogannya tersebut dengan "tobat korupsi". Hahaha

Karena memang sudah gak relevan lagi.

Sekarang, sebenarnya masih ada waktu untuk Partai Demokrat berbenah. Apalagi Pemilu masih cukup lama, yakni 3 tahun lagi. Masih bisa-lah mengatur strategi serta menjalankannya untuk menaikkan citra partai yang sudah terlanjur rusak itu.

Lantas, bagaimana caranya?

Tentu tidak bisa dengan menggunakan cara-cara lama lagi. Seperti beriklan di TV dengan menampilkan diri bak pahlawan anti korupsi padahal tidak. Karena kalau itu dilakukan pasti akan ditertawakan oleh warga asli dan warganet.

Begitupun dengan jurus playing victim yang biasa digunakan oleh SBY, sudah tidak laku lagi dijual di Indonesia.

Sekarang, orang memilih, entah itu kepala daerah, presiden dan anggota legeslatif, karena dua faktor, kalau gak karena uang ya karena rekam jejaknya.

Tidak ada lagi yang karena kasihan.

Karena kalau orang memilih karena faktor kasihan, tentu kursi DPR kita sudah lama dikuasai oleh kaum gelandangan, tunawisma, pengemis dan Lansia terlantar.

Eh ternyata, yang dilakukan oleh AHY masih sama dengan bapaknya dulu, yakni mengeluarkan jurus baper di hadapan publik.

Baru-baru ini, di hadapan para awak media ia berkeluh kesah tentang bagaimana sulitnya menjadi ketua umum Partai Demokrat.

Salah satu masalah yang dihadapinya adalah ada beberapa orang diduga hendak mendongkelnya dari posisi ketua umum itu.

AHY pun membongkar inisial orang-orang yang ingin dia mundur dari kursi Demokrat-1 tersebut.

Di antaranya, kader Partai Demokrat aktif, mantan kader Partai Demokrat dan Moeldoko.

Dengan menyampaikan itu, tentu ia berharap orang-orang akan merasa kasihan atau iba kepadanya, sehingga satu persatu warganet dengan ikhlas hati menjadi simpatisan Partai Demokrat dan mendukungnya sebagai Capres di Pilpres 2024 mendatang.

Tapi ternyata, faktanya tidak demikian ferguso.

Malah yang terjadi, satu persatu anak buahnya pergi meninggalkannya.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Jeneponto, Sulsel. Beberapa kader Partai Demokrat malah pindah ke Partai Golkar.

Tidak hanya kader biasa, tapi Ketua Demokrat Jeneponto dan mantan Ketua DPRD Jeneponto yang sebelumnya Kader Demokrat juga disematkan atribut Partai Golkar.

Mantan anggota DPRD Jeneponto dari Partai Demokrat, Ikram Iskandar malah ditetapkan sebagai Plt Ketua DPD Golkar Jeneponto.

Kan gak asik banget ditinggalkan kader. Hahaha

Sekali lagi, sungguh memprihatinkan kondisi Partai Demokrat saat ini.

Memang sudah saatnya ketuanya diganti , kalau AHY gak mau berbenah




S:Fery Fadly/Seword


Name

Berita,5661,Internasional,278,Nasional,5200,Opini,204,
ltr
item
GELORABANGSA.COM: Memprihatinkan! Pasca AHY Gagal Playing Victim, Kader Demokrat Ramai-ramai Pindah Partai
Memprihatinkan! Pasca AHY Gagal Playing Victim, Kader Demokrat Ramai-ramai Pindah Partai
https://1.bp.blogspot.com/-C0OWeY_AqtI/YCo8165X1gI/AAAAAAAAKcc/3yA3xE4_eY083JSc5kcdeDDAcl5dGinLQCLcBGAsYHQ/w640-h360/3EUSGHDeFX-feature.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-C0OWeY_AqtI/YCo8165X1gI/AAAAAAAAKcc/3yA3xE4_eY083JSc5kcdeDDAcl5dGinLQCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h360/3EUSGHDeFX-feature.jpeg
GELORABANGSA.COM
https://www.gelorabangsa.com/2021/02/memprihatinkan-pasca-ahy-gagal-playing.html
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/2021/02/memprihatinkan-pasca-ahy-gagal-playing.html
true
8720628738510203021
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy