$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Buzzer DKI, yang Curang yang Ngamuk

GELORABANGSA - Terlepas dari benar tidaknya ada tempelan, kecurangan Ari Wibisono adalah mengedit foto sedemikian ekstremnya, sehingga foto...



GELORABANGSA - Terlepas dari benar tidaknya ada tempelan, kecurangan Ari Wibisono adalah mengedit foto sedemikian ekstremnya, sehingga foto awal yang begitu berkabut dia buat menjadi terang benderang. Kalau cuma sampai di situ, mungkin tidak ada yang ambil pusing. Masalahnya, kemudian dia mengunggah ke Medsos dan me-mention beberapa akun tokoh DKI sambil menuliskan caption, “... menandakan Kualitas udara sedang bersih Jakartans.”

Ini jelas satu kebohongan publik, karena dia menyampaikan fakta tidak benar di media publik. Lalu kenapa sekarang Ari dan teman-temannya yang menjadi ngamuk?

Ari meminta fotografer senior yang menyebut ada tempelan foto untuk minta maaf. Padahal tanpa itu pun dia sudah berlaku curang. Sedangkan mengenai tempelan atau tidak, sepertinya perlu waktu menunggu sampai mereka berdua sepakat. Mereka kan fotografer. Kesepakatan mereka diperlukan untuk mengakhiri perdebatan tempel menempel ini.
 
Begitu juga buzzer DKI yang lain, rame-rame nyeruduk ke akun fotografer senior. Masalahnya jadi fix. Mereka menyerang fotografer senior untuk meminta maaf karena masalah tempelan itu juga.

Jadi, yang kita permasalahkan niat mereka berbuat curang, keinginan untuk membentuk opini, tapi mereka malah mencari pelampiasan lain dengan mempermasalahkan narasi tempelan atau tidak.

Yah, begitulah nasib buzzer DKI. Kalau tidak kuat memang mending menghindar saja. Mereka selalu punya 1001 alasan untuk membenarkan diri dari kesalahan. Sudah bakat.

Terus terang, kita bukan tidak ingin Jakarta berudara bersih. Jangankan Jakarta, seluruh Indonesia kita ingin seperti itu. Tapi bukan berarti kita ingin dininabobokan dengan berita palsu. Tipuan kamera, permainan aplikasi untuk sekedar untuk memberikan rasa bangga.

Masalahnya rasa bangga ini, belakangan selalu disalahgunakan oleh orang-orang. Dan dicari kesempatan sebagai tempat mengais keuntungan, entah itu ekonomi atau non-ekonomi, seperti Ari dan orang-orang sejenisnya.

Masih kita ingat bagaimana sebuah lembaga yang terindikasi tidak bonafit sama sekali, yang berada di luar negeri sana, bisa memberikan satu berita cenderung ngarang, mempersamakan kedudukan 2 orang yang berlainan alam sebagai sama-sama pahlawan transportasi.
 
Padahal yang satu menciptakan transportasi modern berbasis teknologi. Yang satu, malah bukan menciptakan, hanya menyiapkan jalur transportasi, itu pun buat kendaraan yang sangat tradisional, jauh dari kata teknologi.

Ini kan jadi berulang-ulang terus. Yang bangga jadi kebelinger. Yang punya kesempatan, mencari keuntungan dalam kesempitan. Yang nonton jengah, bro.

Masalahnya kalau hal seperti ini terus menerus dibiarkan, orang-orang seperti ini akan makin ngelunjak mempermainkan keluguan publik. Mereka menari di atas ketidaktahuan publik. Mereka mencari rejeki dan harga diri di balik kebodohan publik.

Publik kebanyakan, tidak punya literasi luas. Yang terlihat di mata, ya, iya saja. Setelah itu mereka terkecoh dengan narasi selanjutnya dan mengira benar si Anu sudah berbuat banyak di Jakarta. Padahal, emang apa yang sudah dikerjakannya?

Apakah pantas berbangga, kalau pun benar, Dinas LH DKI Jakarta merasa kebersihan udara Jakarta adalah prestasi mereka? Kesannya kan begitu? Setelah Ari mengunggah foto, mereka lalu menggunakannya untuk diunggah lagi di akun mereka sendiri.

Apa maksudnya kalau bukan ingin mengambil keuntungan dari hal tersebut. Seolah-olah karena kerja mereka udara menjadi bersih. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa. Di mana pertamanan Jakarta yang dulu dijanjikan akan luas. Dimana pepohonan yang dulu katanya tidak akan ditebang?

Kalau tiba-tiba pun udara jakarta menjadi bersih, karena musim penghujan dan masa pendemi, tentu tidak layak mereka mengesankan itu adalah prestasi mereka.

Apa mereka berharap, dianggap yang mengakibatkan hutan turun dan memaksa keadaan pandemi, sehingga masyarakat cenderung tidak menggunakan kendarannya?

Pertanyaan kembali sama, mereka atau pandemi dan curah hujan yang membuat udara Jakarta lebih baik? Yang pasti jawabannya bukan mereka.

Maka, saat Ari mengunggah foto tersebut dan me-caption orang-orang DKI, itu sudah satu bentuk kecurangan, bahwa ada niat untuk memanfaatkan keadaan ini untuk keuntungan pribadi atau kelompok. Dan parahnya, ternyata gayung bersambut, setali tiga uang. Sama-sama lugu. Foto diunggah kembali dengan maksud dan tujuan yang sama.

Warga gerah, lalu meluruskan faktanya. Lalu salah warga di mana? Tentu tidak ada kan? Jadi jangan ngamuk lagi ya. Masa situ yang curang, situ yang ngamuk



S: Seword (jaya Surbakti)


Name

Berita,6154,Internasional,283,Nasional,5686,Opini,207,
ltr
item
GELORABANGSA.COM: Buzzer DKI, yang Curang yang Ngamuk
Buzzer DKI, yang Curang yang Ngamuk
https://1.bp.blogspot.com/-0mTUWXXyirw/YC898tvoonI/AAAAAAAAKpQ/7KqrpfB-ErUwSN8ohm4remPyTwbdcnwgACLcBGAsYHQ/w640-h476/bDbYlbp98g-feature.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-0mTUWXXyirw/YC898tvoonI/AAAAAAAAKpQ/7KqrpfB-ErUwSN8ohm4remPyTwbdcnwgACLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h476/bDbYlbp98g-feature.jpeg
GELORABANGSA.COM
https://www.gelorabangsa.com/2021/02/buzzer-dki-yang-curang-yang-ngamuk.html
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/2021/02/buzzer-dki-yang-curang-yang-ngamuk.html
true
8720628738510203021
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy