$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Tim Komunikasi Istana Kayak Keledai

GELORABANGSA - Ketika Raffi Ahmad direncanakan untuk menjadi perwakilan artis yang mendapat vaksin pertama, saya sudah curiga akan ada isu ...



GELORABANGSA - Ketika Raffi Ahmad direncanakan untuk menjadi perwakilan artis yang mendapat vaksin pertama, saya sudah curiga akan ada isu baru. Dan benar saja, foto Rafi menghadiri pesta tanpa masker tiba-tiba viral. 

Yang memviralkan adalah temen artisnya, Anya Geraldine, yang sebelumnya pernah diisukan dekat dengan anaknya Sule.

Apa yang ditulis Anya sebenarnya kalimat bercanda. Ngabis-ngabisin vaksin aja itu kalimat akrab atau ledekan biasa.

 Tapi karena yang baca adalah netizen, maka nada bacanya jadi beragam. 

Dan rupanya, malah banyak yang mengecam. Karena menurut aturan, setelah divaksin, tetap harus jaga jarak, pakai masker dan cuci tangan.

Saya pikir isu ini akan berhenti di ucapan permohonan maaf Raffi. 

Yang teledor berfoto setelah makan. Dan menurut Raffi, itu acara tertutup di rumah salah seorang kenalan yang mengundangnya.

Tapi Polisi malah mendatangi lokasi hajatan. Dan isunya semakin runyam karena Ahok juga ada di acara yang sama. Sehingga dendam kadrun pun menggema. Meminta Ahok dan Raffi dipenjara seperti Rizieq.

Mereka tak peduli bahwa posisi Rizieq sebagai penyelenggara sepenuhnya berbeda dengan Raffi dan Ahok yang hanya sebagai peserta undangan. 

Sementara dari skala kerumunan atau acara, ini sudah sesuai protokol kesehatan. Cuman, kebetulan saja mereka foto setelah makan-makan. Makanya ga ada yang pakai masker. Itu saja.

Kalau Ahok dan Raffi sampai dipenjara, maka demi keadilan, semua anggota FPI, Anies Baswedan dan Riza Patria juga harus dipenjara. Karena keduanya hadir di hajatan Rizieq.

Meskipun bagi kita ini hanyalah ribut-ribut tidak produktif, tapi sejatinya hal semacam ini bisa dihindari.

Saya jujur ga paham dengan tim komunikasi Istana dalam memilih orang-orang untuk menyebarkan narasi positif. Kabar buruknya, ini bukan kali pertama. Padahal katanya, hanya keledai yang jatuh dua kali di lubang yang sama.
 
Dulu saat ada isu omnibuslaw, pemerintah juga membayar influencer artis. Yang cuma modal copas dan sesuai arahan. Murni tanpa proses berpikir dan menghasilkan pernyataan yang relevan.

Lucunya, saat influencer artis ini diserang komentar negatif oleh buzzer SJW, mereka malah minta maaf dan mau mengembalikan dana iklan yang sudah diterima. Hahaha

Bagi saya, yang salah jelas bukan artisnya. Yang salah ya yang milih mereka. Kenapa tidak ada pertimbangan matang dan antisipasi?

Karena produk atau program pemerintah itu produk politik. Tidak bisa disamakan dengan produk umum seperti sabun, pasta gigi atau obat pemutih.

Maka ketika pemerintah menunjuk artis sebagai influencer dengan tujuan menyebarkan semangat positif, itu artinya pemerintah sedang menyamakan vaksin dengan sabun atau vitamin. Yang bisa di iklankan oleh artis manapun, tak peduli latar belakang dan kontroversial yang bisa ditimbulkan.

Ga ada yang salah sama artisnya, hanya tidak relevan saja. Kalaupun mau maksa harus ada perwakilan artis, kan banyak pilihannya. Misal Reza Rahadian atau orang-orang yang cenderung jarang bikin konten di sosmed.

Saya bisa maklum kalau Presiden akhirnya menunjuk Menkominfo yang tak mampu berkomunikasi dengan baik, pun tak punya informasi yang cukup. Bahkan mungkin bikin akun instagram pun belum tentu bisa.

Maklum karena itu keputusan politik. Pertimbangan koalisi. Maklum kalau yang dituntut sejatinya tak paham isi lembaga ya. Tapi masa sampai urusan influencer masih juga salah pilih sih?

Kalau soal produk politik, mestinya yang diundang ya orang-orang yang punya pengaruh di sosial media dengan tema-tema politik.

Saya juga ga paham kenapa di Periode kedua ini, pemerintah semakin tidak mau memanfaatkan para relawan yang konsisten membantu menyebarkan narasi positif. Mungkin mereka terpengaruh Tempo yang kerap melabeli kami dengan buzzer. 

Jadikan tak mau dekat-dekat atau berkomunikasi. Lalu dipilihlah artis-artis yang bayarannya jauh lebih mahal. Mungkin biar mereka percaya diri, bayar mahal pasti bagus. Tapi hasilnya malah zonk dan kasus.

Nah kalau sudah ribut begini, yang beresin ya para relawan tanpa pengakuan. Yang tak mendapat apa-apa dari pemerintah, yang kerap disebut buzzer, tapi terus konsisten memberikan dampak positif untuk Indonesia.

Tapi ya mungkin memang beginilah realitas politik di Indonesia. Dalam kondisi apapun kita tetap harus ikhtiar. Begitulah kura-ku


S:Seword(Alifurrahman)


Name

Berita,6412,Internasional,283,Nasional,5944,Opini,208,
ltr
item
GELORABANGSA.COM: Tim Komunikasi Istana Kayak Keledai
Tim Komunikasi Istana Kayak Keledai
https://1.bp.blogspot.com/-OnSucr-el4w/YAJvktNPtkI/AAAAAAAAIrM/D0r7EIsgwF0jLUBSOSGkM9wf2yFUY7W0gCLcBGAsYHQ/w640-h426/gThc5Sfe30-feature.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-OnSucr-el4w/YAJvktNPtkI/AAAAAAAAIrM/D0r7EIsgwF0jLUBSOSGkM9wf2yFUY7W0gCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h426/gThc5Sfe30-feature.jpeg
GELORABANGSA.COM
https://www.gelorabangsa.com/2021/01/tim-komunikasi-istana-kayak-keledai.html
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/2021/01/tim-komunikasi-istana-kayak-keledai.html
true
8720628738510203021
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy