$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Ngenes! Tidak Diminati Lagi oleh Pemilih, Partai Demokrat Cari Simpati ke Eks Laskar FPI

GELORABANGSA - Memang betul kata Ariel NOAH, tidak ada yang abadi di dunia ini. Begitupun dengan kekuasaan, tidak ada yang bertahan selaman...



GELORABANGSA - Memang betul kata Ariel NOAH, tidak ada yang abadi di dunia ini.

Begitupun dengan kekuasaan, tidak ada yang bertahan selamanya.

Bahkan Soeharto saja, yang di backup penuh oleh militer, lengser dari kursi presiden setelah berkuasa selama 32 tahun.
 
Yang abadi itu adalah perubahan, begitu orang bijak mengatakan.

Tinggal lagi yang menjadi pertanyaan di sini, seseorang atau organisasi itu berubah karena apa?

Apakah karena proses alamiah? Seperti karena sudah dua kali menjabat sebagai kepala daerah maka mau tidak mau harus mundur.

Ataukah karena kelakukan internal yang kurang baik?

Contoh perubahan yang terjadi karena perilaku yang kurang baik ini ada pada Partai Demokrat.

Tentu kita masih ingat bagaimana partai ini dulu berkembang begitu pesatnya. Mengalahkan partai-partai yang bahkan jauh lebih dulu berdiri.

Partai Demokrat dibentuk pada 9 September 2001. Namun baru disahkan pada 27 Agustus 2003.

Hebatnya, 1 tahun kemudian, 2004, partai ini sudah bisa mencalonkan kadernya sebagai presiden, yakni SBY.

Dan yang lebih mengagumkan lagi, mantan Menkopolhukam itu berhasil terpilih sebagai orang nomor satu di Indonesia. Mengalahkan sang petahana, Megawati.

Sementara, Partai Demokrat sendiri memperoleh suara sebesar 7,45 persen.

Suatu pencapaian yang luar biasa bagi sebuah partai baru.

Bandingkan saja dengan Partai Berkarya, yang meskipun sudah disokong oleh logistik melimpah dari Tommy Soeharto serta pernah diendorse oleh Rizieq dari Arab Saudi sana, tetap saja hanya memperoleh suara 2 persen. Alias tidak memenuhi ambang batas parliamentary threshold.

Pada Pemilu 2009 merupakan masa kejayaan Partai Demokrat.

Partai berlambang Bintang Mercy ini kala itu memperoleh 26,4 persen kursi di DPR. Sedangkan ambang batas pencalonan presiden hanya mengisyaratkan 20 persen kursi saja.

Itu artinya apa?

Tanpa berkoalisi dengan partai manapun, Partai Demokrat tetap bisa mengusung calon presiden dan wakil presiden sendiri.

Dan terbukti, meskipun SBY menggandeng Cawapres yang kurang terkenal, yakni Boediono. Tapi tetap saja dapat memenangkan Pilpres 2009 dengan mudah.

Ia berhasil memperoleh 60,8 persen suara. Sementara rivalnya, Megawati hanya memperoleh suara 26,7 persen saja.

Namun, inilah salahnya Partai Demokrat. Di saat sedang berjaya, kadernya seperti lupa diri.

Bukannya memanfaatkan kepercayaan dari masyarakat untuk membangun bangsa dan negara, mereka malah sibuk korupsi berjamaah. Seolah lupa dengan tagline Partai Demokrat itu sendiri, yakni 'katakan tidak pada korupsi'.

Tidak pelak, satu-persatu kadernya pun dicyduk KPK kala itu.

Mulai dari Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, Hartati Murdaya, Jero Wacik, Sutan Bhatoegana, M. Nazaruddin, Angelina Sondakh, Amran Daulay, As’ad Syam, Murman Effendi, Sarjan Taher, Agusrin M. Najamuddin, Djufri, dll.

Termasuk juga Ibas, putra bungsu SBY, yang kala itu turut disebut-sebut melakukan korupsi. Tapi tidak sampai kena cyduk KPK.


 
Hal inilah yang kemudian membuat partai ini diolok-olok netizen dengan mengubah tagline-nya menjadi 'katakan tidak pada (hal) korupsi'.

Tidak hanya itu saja, posisi Partai Demokrat di Pemilu 2014 pun merosot drastis. Dari yang awalnya berada di urutan pertama, menjadi posisi ke-4 dari 10 partai di DPR.

Di Pemilu 2019 lalu, makin ngenes lagi. Partai ini berada di posisi ke-7 dari 9 partai yang lolos ke senayan.

Dan, jika tidak pandai melakukan pencitraan seperti SBY dulu, maka tidak menutup kemungkinan partai ini akan menjadi gurem pasca Pemilu 2024 mendatang.

Untuk itulah kadernya melakukan segala cara agar tetap punya wakil di parlemen.

Mulai dari ikut-ikutan SJW menolak UU Cipta Kerja. Hingga yang teranyar, dan ngenes sebenarnya, yakni berusaha menarik simpati dari kalangan Kadrun, FPI.

Sebagaimana kita ketahui bahwa komunitas Kadrun ini sudah tidak bertuan pasca ditinggal oleh Prabowo bergabung ke kubu Jokowi.

Untuk itulah, partai yang digawangi AHY tersebut tergiur untuk menjadikan mereka sebagai basis massa.

Perhatikan saja apa yang dilakukan oleh Partai Demokrat pasca FPI dibubarkan pemerintah.

Mereka seolah-olah menjadi pembela bagi ormas intoleran itu.

Yang bertugas menjadi pahlawan kesiangan bagi FPI ini adalah Rachland Nashidik.

Melalui akun Twitter-nya @RachlandNashidik, tanpa bukti yang jelas, dia menuding langkah pemerintah membubarkan FPI itu membahayakan hak konstitusi setiap warga negara.

"Cara pemerintah menggebuk FPI membahayakan hak konstitusional semua warga negara," ujar Rachlan seperti tanpa bersalah.

"Pemerintahan Jokowi mengambil ke tangannya sendiri kewenangan hakim untuk mengadili dan memutuskan," lanjutnya lagi.

Tidak hanya itu saja, ia juga menakut-nakuti ormas lain dengan mengatakan bahwa bisa saja ada ormas lain yang dibubarkan lagi jika tidak sesuai dengan selera pemerintah.

-ooo-

Eh Rachlan, ente belajar dari sejarah atau tidak?

Wacana pembubaran FPI itu sudah ada sejak jaman SBY dulu.

Hanya saja seperti kata Gus Dur, SBY itu penakut.

Ini masih ada link beritanya kalau SBY itu memang penakut.

https://nasional.okezone.com/read/2011/02/12/337/424231/ormas-islam-dibubarkan-fpi-ancam-gulingkan-sby

"Kami akan gulingkan pemerintah jika berani membubarkan ormas. Kami akan jadikan (SBY) seperti Ben Ali di Tunisia," ancam Jubir FPI, Munarman di berita itu.

Hingga jenderal melankolis tersebut benar-benar tidak melakukan apa-apa terhadap ormas yang suka bikin rusuh kala itu.

Jadi, ngapain bela-belain FPI?

Kadrun pun sebenarnya sudah tahu dari dulu kalau partai ente itu berseberangan dengan mereka.

Dan meskipun suka mikirnya terbalik, mereka juga gak bodoh-bodoh amat. Mereka tahu banget kalau ada udang dibalik bakwan terkait pembelaan antum itu. Hehehe

Mending pakek cara yang lain saja untuk menggaet suara pemilih.

Karena Kadrun juga punya kelemahan, yakni meskipun sudah dibela mati-matian, tetap gak akan bergerak kalau gak ada nasi bungkus.

Yang karet pengikatnya warna hijau.




S: Seword


Name

Berita,5343,Internasional,278,Nasional,4882,Opini,204,
ltr
item
GELORABANGSA.COM: Ngenes! Tidak Diminati Lagi oleh Pemilih, Partai Demokrat Cari Simpati ke Eks Laskar FPI
Ngenes! Tidak Diminati Lagi oleh Pemilih, Partai Demokrat Cari Simpati ke Eks Laskar FPI
https://1.bp.blogspot.com/-CpzMEGOzDTI/X-_FBXUNaOI/AAAAAAAAHnk/ZBiwif_qc_gKxkQXTil075cSOp524D2jgCLcBGAsYHQ/w640-h360/DyvPQnzCQv-feature.jpeg
https://1.bp.blogspot.com/-CpzMEGOzDTI/X-_FBXUNaOI/AAAAAAAAHnk/ZBiwif_qc_gKxkQXTil075cSOp524D2jgCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h360/DyvPQnzCQv-feature.jpeg
GELORABANGSA.COM
https://www.gelorabangsa.com/2021/01/ngenes-tidak-diminati-lagi-oleh-pemilih.html
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/2021/01/ngenes-tidak-diminati-lagi-oleh-pemilih.html
true
8720628738510203021
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy