$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Mahfud Mujiaman Panik, Libatkan HTI Merusak Demokrasi

GELORABANGSA - Pilkada Surabaya sejatinya menyajikan dua calon baru. Tidak ada pertahana, karena Bu Risma sudah tidak bisa maju lagi.  Tapi...



GELORABANGSA - Pilkada Surabaya sejatinya menyajikan dua calon baru. Tidak ada pertahana, karena Bu Risma sudah tidak bisa maju lagi.

 Tapi nuansanya, seolah-olah Eri Cahyadi adalah pertahana yang kini ditantang Mahfud Arifin.

Sebenarnya Mahfud sempat mencoba memainkan narasi yang mirip: Setelah Risma kini Mahfud. 

Tapi nampaknya narasi Eri Cahyadi penerus Bu Risma, sudah terlalu kuat di masyarakat Surabaya. Sehingga Mahfud Arifin menyerah dan berbalik arah menyerang.

Tak heran dalam dua kali debat yang sudah digelar, Mahfud Arifin selalu menjelek-jelekkan Bu Risma. Begitu juga dengan pendukungnya.
 
Maka wajar kalau relawan Mahfud tak berani lagi masuk ke gang-gang sempit. Karena rawan disoraki oleh mayoritas pemilih Risma. Masyarakat Surabaya jelas sangat menyukai Risma, maka ketika Mahfud menyerang Risma, masyarakat spontan bereaksi.

Tapi lucunya, kejelekan Risma itu mudah dipatahkan. Seperti kali yang disebut kotor, ternyata bersih. Atau saat tim Mahfud protes soal penutupan gang dolly, seolah setelah berkuasa tempat prostitusi terbesar se Asia tersebut akan kembali diaktifkan, nyatanya membawa blunder pada elektabilitas Mahfud.

Entah siapa tim penasehat atau konsultan politik yang melayani Mahfud Arifin. Tapi jelas secara kalkulasi politik, Mahfud sudah salah langkah.

Risma memenangkan Pilkada Surabaya dengan 86 persen suara. Jadi secara hitungan kasarnya, 86 persen pemilih itu menyukai Risma.

Saya juga ga habis pikir kenapa Mahfud justru menjelek-jelekkan Risma. Yang artinya secara otomatis membuat jarak dengan 86 persen masyarakat Surabaya.

Memang ada yang tidak suka dengan Risma. Secara data Pilkada itu hanya 14 persen. Lalu apa untungnya untuk memastikan 14 persen suara?

Bukankah lebih baik tidak menjelek-jelekkan Risma? dengan harapan para pemilih Risma bisa memilih Mahfud.
 
Meskipun di Pilkada Surabaya kini terjadi perang survei, tapi pada intinya semua survei mengeluarkan angka yang sama soal kepuasan publik terahadap Risma. Mencapai lebih dari 90 persen.

Pertanyaannya, jika lebih dari 90 persen masyarakat puas dengan kinerja Risma, kenapa Mahfud Arifin justru menjelek-jelekkan Risma dengan data-data ngaconya?

Akibat salah langkah dan waktu yang sudah mepet, Mahfud dan wakilnya mulai memberi ruang kepada PKS dan HTI untuk terlibat. Nampaknya ini jalan darurat dan panik, karena survei elektabilitasnya sudah terpaut cukup jauh dari Eri Cahyadi.

Berharap cara-cara intimidasi dan SARA yang sukses di Jakarta, juga berhasil diterapkan di Surabaya.

Mungkin PKS dan HTI punya massa yang loyal. Terutama HTI. Diharapkan mampu menjadi kejutan dengan mengubah orang yang anti demokrasi, ikut turun memberikan suaranya untuk Mahfud.

Tapi masalahnya, dalam sejarah panjang Pilkada, pemilu dan Pilpres, Surabaya adalah kota pahlawan. Kota nasionalis yang alergi dengan intoleransi, rasis dan khilafah. Masyarakat Surabaya itu anti dengan PKS, HTI, FPI dan sejenisnya. Maka aneh kalau Mahfud justru menggunakan PKS dan HTI.

Sementara Eri Cahyadi begitu dekat dengan NU. Beragam organisasi NU turut mendukung Eri secara terbuka. Bahkan menurut banyak kalangan, Eri Cahyadi merupakan bagian dari keluarga besar Pesantren Sidosermo. Salah satu pesantren tua di Surabaya, bersama Ampel dan Peneleh.

Ragam acara, dari mulai mendengar misi ke depan, sampai acara doa bersama kerap dilakukan oleh tim Eri bersama organisai sayap NU.

Bagi saya, secara kalkulasi politik, Eri Cahyadi sudah unggul dari Mahfud. Baik dari sisi elektabilitas, komunikasi posisi pertahana dan penantang, dukungan partai dan preferensi organisasi keagamaan.

Tapi saya cukup menyayangkan kenapa dalam Pilkada Surabaya, harus melibatkan HTI dan cara-cara PKS? yang intoleran, memecah belah dan sarat dengan kampanye SARA.

Mestinya Mahfud sebagai mantan Kapolda, sadar betul betapa polarisasi terjadi di masyarakat karena langkah politik ala PKS dan HTI. Mestinya polisi macam Mahfud tahu, bahwa efek kampanye akan berlangsung lama. Kita bisa lihat bagaimana provokasi, fitnah dan kampanye SARA yang dibawa Prabowo pada tahun 2014, sampai hari ini masih sangat melekat di sebagian masyarakat kita.

Pertanyaannya, apakah Mahfud mau mengulangi kesalahan sejarah demokrasi di Surabaya? Yang asal menang, kalahpun bisa ngerecokin sampai 5 tahun mendatang? Lalu maju lagi dan membuat polarisasi semakin tajam?

Sebagai mantan Kapolda, polisi, mestinya Mahfud paham dengan standar menjaga toleransi dan kerukunan ummat beragama. Begitulah kura-kura.





S: Seword.com(Alifurrahman)


Name

Berita,6001,Internasional,278,Nasional,5540,Opini,206,
ltr
item
GELORABANGSA.COM: Mahfud Mujiaman Panik, Libatkan HTI Merusak Demokrasi
Mahfud Mujiaman Panik, Libatkan HTI Merusak Demokrasi
https://1.bp.blogspot.com/-wadk6s3ibQk/X8DM4VyU3NI/AAAAAAAAFa4/qX-AYDkY2ao4uJ1PM9nccC9QMvvMiKE7QCLcBGAsYHQ/w640-h358/Screenshot_2020-11-27-16-52-38-88.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-wadk6s3ibQk/X8DM4VyU3NI/AAAAAAAAFa4/qX-AYDkY2ao4uJ1PM9nccC9QMvvMiKE7QCLcBGAsYHQ/s72-w640-c-h358/Screenshot_2020-11-27-16-52-38-88.jpg
GELORABANGSA.COM
https://www.gelorabangsa.com/2020/11/mahfud-mujiaman-panik-libatkan-hti.html
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/2020/11/mahfud-mujiaman-panik-libatkan-hti.html
true
8720628738510203021
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy