$type=grid$meta=0$readmore=0$snippet=0$count=3$show=home

Sampai Kapan Keluarga Korban Bom di Gereja Oikumene Cari Biaya Operasi?

GELORABANGSA - Perjuangan memenangkan tuntutan rasa keadilan bagi korban terorisme itu panjang dan melelahkan. Sudah 3 tahun saya mend...



GELORABANGSA - Perjuangan memenangkan tuntutan rasa keadilan bagi korban terorisme itu panjang dan melelahkan.

Sudah 3 tahun saya mendampingi keluarga Alvaro dan Trinity korban bom Samarinda (terjadi pada 23 November 2016 silam, red).

Saya bukan sekadar menyuarakan suara getir mereka dengan menulis kisah perjuangan mereka.

Namun juga mencari solusi atas biaya yang tak murah untuk pemulihan anak-anak keluarga korban penyerangan terorisme itu.

Tapi sampai kapan keluarga Alvaro dan Trinity berjuang mencari biaya operasi anak-anak mereka? Sementara operasi kulit yang harus dilakukan itu panjang bisa sampai dewasa.

Suara sedih Alvaro dan Trinity sudah saya sampaikan ke BNPT Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan LPSK Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.

Kedua lembaga negara ini dibentuk untuk menangani penanggulangan terorisme dan korban kejahatan terorisme.

Bulan Mei 2019 lalu, seminggu menjelang keberangkatan Ibu Trinity dan Trinity ke Guangzhou, saya sudah menyampaikan permohonan keluarga Trinity kepada BNPT dan LPSK.

Saya sampaikan keluh kesah keluarga Trinity kepada Brigjen Pol Herwan Chaidir (Direktur Perlindungan BNPT).

Juga kepada pejabat LPSK Pak Galih dan Pak Aji Dana. Apa itu?

Saya mewakili keluarga meminta agar segala biaya pengeluaran perobatan rumah sakit di Guangzhou dibayar negara. Sama seperti pembiayaan jika berobat di rumah sakit dalam negeri.

Pertimbangannya begini.

Negara harus bertanggung jawab melindungi segenap seluruh tumpah darah warga negara.

Itu tujuan kita bernegara seperti tertulis di konstitusi.

Maka dibentuklah aparatus negara. Ada BIN, Polisi, TNI, BNPT, LPSK dlsb.

Bagaimana jika negara gagal melindungi warga negaranya?

Jika gagal, maka negara harus bertanggung jawab membayar ganti rugi atas kegagalan itu.

Prinsip dasarnya, ya seperti itu.

Dalam peristiwa ledakan bom teror di Sibolga, ada puluhan rumah luluh lantak.

Maka BNPT mencatat semua rumah yang hancur dan rusak.

Data itu diberikan ke Kementerian PUPR. Lalu Kementerian PUPR membangun rumah untuk para korban ledakan bom.

Nilainya setara dan persis seperti rumah mereka semula.

Hal itu juga dilakukan BNPT pada korban luka bom teroris Samarinda yaitu Alvaro dan Trinity.

BNPT merekomendasikan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.

Kemudian LPSK menghitung kerugian materi dan immateril korban.

Hitungan itu lalu digugat ke pengadilan.

Untuk kasus Trinity, LPSK menghitung sekitar 600 juta kerugian yang ditimbulkan.


Sialnya hakim PN Samarinda hanya menyetujui negara membayar 10 persen dari tuntutan LPSK. Hanya 60 juta saja.

Menyedihkan sekali hakim tak berperikemanusiaan ini.

Nah, untuk biaya perobatan rumah sakit dan obat semua dibayar LPSK.

Intinya biaya perobatan di dalam negeri beres.

Masalahnya setelah berjalan 6 bulan diobati di RS Samarinda, kondisi Alvaro dan Trinity malah semakin memburuk. Tidak ada perubahan.

Walhasil orang tua mereka memutuskan berobat ke luar negeri.

Alvaro di Kuala Lumpur Malaysia. Trinity di Guangzhou. Tabungan dikuras. Harta perhiasan dijual. Yang penting anak bisa pulih.

Sayangnya uang ratusan juta yang dibawa itu tak cukup.

Mereka pikir uang ratusan juta yang dibawa sudah cukup untuk membiayai pengobatan anaknya.

Alih-alih cukup untuk operasi kedua saja sudah kurang.

Saya mendengar kesedihan mereka. Saya mendengar sesak di dada mereka.

Lalu saya menulis kisah kesusahan ayah ibu Alvaro dan Trinity.

Saya menggalang dana dan berharap teman-teman seperjuangan memberi bantuan langsung ke rekening mereka.

Dapatlah dana untuk membantu biaya pengeluaran operasi mereka.

Sementara hingga sampai saat ini cukup menutup biaya yang dibutuhkan.

Tapi pemulihan Alvaro dan Trinity itu panjang.

Belum berhenti sampai di sini. Masih perlu operasi berkali-kali lagi.

Itu artinya masih banyak biaya yang diperlukan.

Trinity saja sudah 8 bulan di Guangzhou.

Masih beberapa bulan lagi bertahan di sana.

Pada pertemuan di Kelapa Gading dengan LPSK Mei 2019 lalu, pihak LPSK meminta agar keluarga Trinity mengirimkan semua dokumen tagihan.

Kwitansi, bukti tagihan dan dokumen pengeluaran perobatan Trinity sudah dikirimkan ke LPSK sekitar Mei 2019 lalu.

LPSK melalui pejabatnya Pak Dana bilang akan mengusahakan sekuatnya.

Sekitar Agustus lalu, saya bertemu dengan Pak Dana di Metro TV.

Kebetulan ayah ibu Alvaro masuk Kick Andy Show. Tim LPSK diundang dalam acara itu.

Saya menanyakan lagi soal proses tagihan biaya perobatan di rumah sakit Trinity kepada tim LPSK Pak Dana dan Pak Firdaus.

Jawab mereka permohonan Trinity tidak disetujui. Anggaran tidak ada.

Anggaran LPSK setahun hanya 16 milyar.

Jadi tidak punya dana untuk membayar Trinity. Alamakkk..kejamnya.

Dari Pak Dana saya diberitahu bahwa LPSK itu seperti anak tiri.

Mereka masih numpang di Setneg.

Anggarannya juga masih menginduk di Setneg.

Gedung kantornya juga masih numpang. Belum mandiri.

Saya cukup heran dengan birokrasi yang lucu ini. Jauh dari kata lembaga perlindungan korban.

Untuk apa dibuat lembaga perlindungan jika tidak bisa melindungi?

Apa yang dilindungi dari lembaga yang dibuat untuk melindungi korban terorisme ini? Apakah dibuat untuk gagah-gagahan saja. Agar dianggap prokorban terorisme. Padahal tidak jelas kelaminnya.

Tapi saya tidak menyerah. Saya pantang menyerah. Ini harus terus diperjuangkan.

Bukan soal untuk kepentingan Alvaro dan Trinity semata. Tapi ini untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Kita tidak tahu esok mungkin saja anakmu atau anak saya yang terkena aksi bom teroris. Bisa saja terjadi pada keluarga kita.

Terus kita bisa apa? Apa mau seperti ayah ibu Alvaro dan Trinity yang pontang panting jual harta benda untuk mengobati anaknya?

Ini tugas dan tanggung jawab negara, coy. Bukan tanggung jawab Birgaldo Sinaga. Tugas kita sebagai rakyat, ya bayar pajak.

Pajak itu untuk membiayai lembaga semacam BIN, Polisi, BNPT dan LPSK untuk memberikan perlindungan kepada seluruh tumpah darah Indonesia. Sesuai amanat agung konstitusi.

Jika negara gagal melindungi, ya bayar sampai sembuh tak peduli jika harus berobat ke luar negeri. Kira-kira begitu konswekensinya.

Esok siang, Senin 9 Desember 2019, saya akan terbang ke Guangzhou untuk menjenguk Trinity.

Sebelumnya seminggu lalu, saya mengunjungi keluarga Alvaro dan Trinity di Samarinda.

Lima hari saya berada di Samarinda. Saya juga bertemu dengan ayah ibu Intan Olivia.

Intan (2.5) tewas akibat api membakar sekujur tubuhnya pada peristiwa kelam 13 November 2016 itu.

Saya menjenguk untuk melihat dengan mata kepala saya sendiri seperti apa kesulitan dan perjuangan Ibu Trinity dan anaknya itu selama hampir 8 bulan di sana. Juga kepiluan ayah ibu Intan kehilangan anak semata wayangnya itu.

Ini perlu karena saya akan buat laporan dan buku catatan untuk saya sampaikan ke teman-teman Fraksi NasDem di DPR.

Jauh sebelumnya persoalan ini sudah saya sampaikan ke Taufik Basari anggota DPR Komisi 3.

Juga kepada Martin Manurung anggota DPR Komisi VI. Juga kepada Charles Meikiansyah anggota DPR Komisi VII.

Saya juga ceritakan kepada Ibu Lestari Murdijat Wakil Ketua MPR Fraksi NasDem.

Syukurlah, suara saya ini didengar teman-teman DPR. Fraksi NasDem dalam Prolegnas 2019 akan memperjuangkan RUU Sistem dan Bantuan Terhadap Korban Kejahatan dan Perlindungan Saksi.

Saya senang sekali jika RUU ini berhasil dibuat oleh DPR.

Itu artinya jika UU ini jadi, korban kejahatan terorisme akan dilindungi pemulihannya sampai tuntas.

Kasus keluarga Trinity dan Alvaro yang harus jual harta benda dan pinjam sana sini untuk membiayai anak-anaknya tidak akan terjadi lagi.

Saya berharap sekali teman-teman seperjuangan Fraksi NasDem di DPR RI berhasil menggolkan RUU Sistem dan Bantuan Terhadap Korban Kejahatan dan Perlindungan Saksi menjadi UU.

Jika terwujud, saya kira perjuangan saya untuk meringankan beban derita keluarga Alvaro dan Trinity akan tuntas.

Karena negara akan mengambil alih tanggung jawab itu.

Negara hadir dalam pemulihan korban kejahatan terorisme. Sesuai perintah konstitusi.

Sumber: netralnews.com


Name

Berita,4797,Internasional,277,Nasional,4337,Opini,204,
ltr
item
GELORABANGSA.COM: Sampai Kapan Keluarga Korban Bom di Gereja Oikumene Cari Biaya Operasi?
Sampai Kapan Keluarga Korban Bom di Gereja Oikumene Cari Biaya Operasi?
https://1.bp.blogspot.com/-7TVl4NATV70/XmECx_6oz8I/AAAAAAAAES8/Ens7BRTASv4g8eWkDYF2WlezPW9pbjCAACLcBGAsYHQ/s640/IMG_20200305_214600.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-7TVl4NATV70/XmECx_6oz8I/AAAAAAAAES8/Ens7BRTASv4g8eWkDYF2WlezPW9pbjCAACLcBGAsYHQ/s72-c/IMG_20200305_214600.jpg
GELORABANGSA.COM
https://www.gelorabangsa.com/2020/03/gelorabangsa-perjuangan-memenangkan.html
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/
https://www.gelorabangsa.com/2020/03/gelorabangsa-perjuangan-memenangkan.html
true
8720628738510203021
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy